Rabu, 17 Oktober 2012

Mencoba Berseloroh...

Apa sih berseloroh itu? halah pokoknya pengen cuap-cuap ngalor ngidul tentang dunia yang saat ini saya geluti. Hmmm...kira-kira dunia apakah itu? dunia yang lagi banyak diperbincangkan oleh semua penduduk negri ini, dunia yang semua umat manusia pasti diwajibkan (hukumnya bukan lagi sunnah) untuk melaksanakannya. Yang kemarin menjadi hot news dan jadi headline dibeberapa media di negara kita tercinta gara-gara korban nyawa manusia bukan nyawa cicak lho. Dan kembali ke soal hukum, karena hukumnya wajib itu tadi maka setiap anak HARUS dan WAJIB masuk ke dunia ini, bahkan sekarang dari usia dini. Tapi, sebentar-sebentar benar hukumnya WAJIB ya? aahhh...nanti kalian semua bakal tahu, bagaimana hukum 'dunia' ini.
Aduuhh..sudahlah jangan terlalu lama bertele-tele dah, sebenarnya apa sih dunia ini? Jreng..jreng...gaya kalian itu, sudah tahu apa saja yang dibicarakan kok malah pura pura dalam perahu. Biasalah orang Indonesia sukanya kura-kura tidak tahu,hehehe.
Dunia yang akan kita bicarakan ini adalah dunia "PENDIDIKAN", dunia dimana saya telah terjerumus, masuk, dan lumayan telah basah walaupun belum terlalu kuyup :)
Dari sini saya ingin membicarakan salah satu kendala dalam dunia pendidikan saat ini, penyebabnya adalah degradasi moral anak-anak sekarang ini. Menyoal tentang degradasi moral anak-anak kita tidak bisa men'judge' kalau ini murni kesalahan anak-anak itu sendiri, there are many reasons, dan penyebab paling utama adalah lingkungan mereka, I'm sure about it. Mari kita ingat kembali kejadian yang terjadi beberapa hari atau minggu yang lalu, kalau diibaratkan makanan, maih belum expired lah. Kejadian yang mengguncang nalar dan menyentak nurani, terutama saya yakin menyentak bapak mentri pendidikan kita, yang saya yakin 100% beliau 'shock' berat dengan jawaban anak yang diinterviewnya itu. Sekedar mengingatkan, kurang lebihnya beginilah kata-kata interviewnya.
Bapak Mentri  : Puas kamu sudah membunuh?
Murid SMA    : Puas pak!
Dan yang terjadi seperti yang kita lihat bagaimana raut wajah pak Mentri ketika beliau keluar dari 'ruang interview'nya dan diwawancarai beberapa wartawan, raut wajah shock, kaget, 'unbelieveable' dengan jawaban anak bau kencur. #ahh..perumpamaan saya ini cocok gak sih? ya sudahlah..pokoknya anak kemarin sorelah.
Terlepas dari pro dan kontra, yang menyayangkan kenapa orang pintar sekaliber pak mentri, kok pakai bahasa "Puas" untuk menanyai anak SMA tentang pembunuhan itu tapi memang begitulah kenyataannya di lapangan and we must know it especially the parents. Kalau memang pribadinya seperti itu, saya yakin ditanya dengan bahasa halus, semisal "Bagaimana perasaan anda telah membunuh teman anda sendiri?dan kemungkinan besar jawaban anak itu tetap sama. Saat melihat 'kekagetan' pak mentri kemarin itu, ingin rasanya mengatakan, memang begitulah degradasi moral yang terjadi pada anak-anak ini. Bagaimana etika anak-anak terhadap guru benar-benar tidak ada, hampir semua guru mengeluh dengan sikap anak-anak sekarang ini, baik itu dari sikap malasnya atau ogah-ogahan menerima pelajaran, tidak menghargai dan mendengarkan penjelasan guru alhasil ketika diberi pertanyaan, dengan gampangnya jawab "tidak bisa bu", "tidak bisa pak" tanpa ada keinginan untuk mencobanya. Sebenarnya bukannya mereka bodoh tapi "MALAS". Dengan teknologi yang semakin maju seperti saat ini, dimana media untuk belajar banyak sekali, sumber-sumber atau bahan pembelajaran banyak sekali untuk dipelajari maupun dijadikan referensi tapi pada kenyataannya, they don't used it. Sementara itu, pemerintah menerapkan standar yang tinggi untuk hasil belajar siswa, dan dengan karakter siswa-siswa yang seperti itu lumayan sulit untuk mencapai standar itu. Okelah, kalau anak-anak yang tinggal di kota mungkin bisa mencapai standar itu tapi bagaimana dengan anak-anak di desa?Kalau soal mengajar itu gampang sekali sebenarnya kalau anaknya 'manut'. Tapi, yang terjadi sekarang ini, bukan 'bodohnya' mereka tentang pelajaran tapi lebih ke "attitude" mereka. Oleh karena itu yang dibutuhkan sekarang ini bukan pengajar yang baik tetapi seorang pendidik yang baik. Semua guru pasti bisa mengajar tapi tidak semua guru bisa mendidik. Oleh karena itu, mari para guru kita didik anak-anak kita dengan baik menjadi pribadi yang berkarakter baik, dan peran serta orang tua pun juga sangat berpengaruh, didiklah putra-putri kalian dengan baik sejak usia  dini. Tanggung jawab moral terbesar terhadap tingkah laku mereka adalah orang tua dan guru, mereka adalah generasi penerus sekaligus ujung tombak negara kita, maka dari itu diperlukan generasi penerus yang mempunyai mental, akhlak, dan tingkah laku yang budiman. Kalau moral, akhlak, mental, dan tingkah laku mereka sudah baik (berkarakter positif) saya yakin menangkap atau menerima pelajaran duniawi (mata pelajaran di sekolah) akan dengan mudah mereka kuasai. So, I think "mendidik" lebih utama daripada "mengajar".
Wow...saya sudah bercuap-cuap "ngulon ngetan" ini gak hanya "ngalor ngidul", sampai belepotan seperti ini. Yah, tulisan ini masih banyak yang tumpang tindih saya rasa "tidak coherence", "tidak mulus", namanya juga masih belajar nulis. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Bagi yang sudah merasa kangen dengan tuisan saya #pede, tenang...masih banyak yang perlu dikupas tentang dunia pendidikan disini, so stay tune, I'll be right back. :))


To be continued...............